contoh laporan hasil observasi

3+ Contoh Laporan Hasil Observasi : Psikologi dan Sosiologi

Laporan Hasil Observasi – Observasi adalah salah satu metode pengambilan data yang dilakukan pada saat melakukan penelitian ilmiah tertentu.

Hasil dari pengambilan data tersebut kemudian disusun menjadi laporan hasil observasi dengan format yang sudah ditentukan.

Objek penelitian ilmiah seperti tanaman, hewan, bencana alam, fenomena sosial dan lain sebagainya bisa menggunakan metode observasi untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.

Selain beberapa objek di atas, contoh lainnya adalah sebagai berikut.

Laporan Hasil Observasi Pengamen Alun-Alun Kabupaten Karawang

contoh laporan hasil observasi

Laporan observasi yang pertama adalah penelitian terhadap pengamen anak di Alun-alun Kabupaten Karawang.

Meskipun tidak hanya anak-anak yang menjadi pengamen disana, namun pada penelitian ini fokus dari peneliti adalah anak-anak yang putus sekolah dan mencari uang dengan cara mengamen.

BAB I

Pendahuluan

1. Latar Belakang

Masalah yang dihadapi oleh masyarakat tidak selalu sama, antara lain masalah sosial, ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Masalah-masalah ini dipengaruhi oleh perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya itu sendiri.

Seiring berjalannya waktu, masalah kemiskinan masih menjadi momok bagi Negara Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari semakin bertambahnya jumlah pengemis dan pengamen di setiap daerah, tidak terkecuali anak-anak.

Sedangkan anak-anak diharapkan menjadi tunas bangsa, yaitu generasi selanjutnya yang akan membantu dalam perkembangan dan perbaikan berbagai aspek dari negara itu sendiri. Tapi anak-anak itu bahkan tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi keluarga.

Dari adanya penelitian ini, diharapkan peneliti dapat memberikan sumbangsih berupa solusi dalam menghadapi permasalahan ini.

2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang membuat banyaknya pengamen anak-anak di alun-alun Kabupaten Karawang? Kepercayaan atau agama apa yang mereka anut dan bagaimana cara mereka menjalankan ibadah tersebut dalam kesehariannya, yaitu mengamen.

3. Tujuan Observasi

Sebagaimana disebutkan dalam rumusan masalah diatas, tujuan observasi ini dilakukan adalah untuk mengetahui penyebab apa saja yang membuat banyaknya pengamen anak-anak di alun-alun Kabupaten Karawang dan bagaimana cara mereka beribadah sesuai dengan kepercayaannya.

4. Manfaat Observasi

Dari adanya penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat berupa solusi untuk menangani permasalahan pengamen anak-anak tersebut. Peneliti berharap generasi yang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan lebih baik dapat berperan dalam menangani permasalahan tersebut.

BAB II

Landasan Teori

1. Teori Kemiskinan

Menurut Suparlan (1981), kemiskinan adalah suatu standar hidup yang rendah, yaitu adanya kekurangan materi pada sejumlah orang dibandingkan dengan standar umum yang ada pada kebanyakan masyarakat pada daerah tersebut.

Standar yang rendah ini berpengaruh langsung pada tingkat kesehatan, moral dan tingkat harga diri yang rendah bagi para masyarakat yang tergolong miskin.

2. Teori Keagamaan

Terdapat 3 aspek yang harus diperhatikan ketika akan menanamkan nilai keagamaan pada anak, yaitu usia, fisiologis dan psikologis.Nilai-nilai keagamaan tersebut akan berkembang seiring dengan perkembangan psikologis dan fisiologis dari anak itu sendiri.

3. Konsep Diri Pengamen

Anak-anak yang menjadi pengamen harus berjuang setiap hari untuk mendapatkan uang untuk keluarganya. Selain itu, mereka juga harus berhadapan dengan preman-preman jalanan yang sering kali menindas atau melakukan tindak kekerasan.

Kebanyakan dari preman dan pengamen ini adalah anak-anak yang putus sekolah, meskipun pemerintah sudah menetapkan wajib belajar 9 tahun dan membantu biaya sekolahnya, namun kenyataannya masih banyak anak-anak yang putus sekolah untuk mencari nafkah dan membantu orang tuanya.

Dengan pendidikan yang rendah dan pemahaman mengenai kesehatan yang kurang, seringkali anak-anak yang sakit tidak segera pergi ke dokter karena biaya kesehatan dianggap mahal sehingga tidak dapat mereka jangkau.

BAB III

Hasil Observasi

Menurut Teori yang dipaparkan oleh Abraham Maslow, kebutuhan primer hadir sebelum adanya kebutuhan sekunder, sehingga kebutuhan primer tentu akan lebih diutamakan dalam pemenuhannya. Kebutuhan primer misalnya adalah makan, sedangkan kebutuhan sekunder adalah pendidikan. Itulah sebabnya banyak anak yang putus sekolah karena harus membantu orang tuanya mencari nafkah.

Sederhananya, manusia akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan makannya terlebih dahulu baru memenuhi kebutuhan pendidikan jika dirasa mampu. Namun yang sering kali terjadi, mereka melakukan pekerjaannya selama seharian penuh dengan upah yang tidak besar, sehingga mereka hanya bisa memenuhi kebutuhan makannya saja dan tidak mampu untuk membayar biaya pendidikan.

Untuk mengetahui perilaku putus sekolah untuk mencari nafkah ini, terlebih dahulu dibutuhkan analisa terhadap latar belakang orang tua dan keluarganya. Pada subjek bernama Nana yang putus sekolah sejak usia 8 tahun kemudian mengamen di alun-alun Kabupaten Karawang untuk mencari nafkah.

Setelah dilakukan beberapa analisa maka ditemukan bahwa orang tua Nana berada pada kondisi finansial lemah, sehingga ketiga anaknya terpaksa harus berhenti sekolah dan mengamen maupun berjualan asongan di jalan-jalan besar maupun alun-alun tersebut.

Diketahui bahwa orang tua Nana juga tidak memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi, sehingga dirasa kurang memiliki kemampuan yang cukup untuk bisa bersaing dengan pekerja lainnya dengan kemampuan maupun latar belakang pendidikan yang lebih tinggi.

1. Aspek Pekerjaan

Sebagaimana sudah disebutkan diatas. Nana terpaksa harus bekerja menjadi pengamen di

Alun-alun Kabupaten Karawang karena desakan ekonomi keluarga. Nana juga terpaksa harus berhenti melanjutkan pendidikan dasarnya karena orang tuanya tidak mampu lagi membayar biaya pendidikan untuk Nana dan adik-adiknya.

2. Aspek Agama

Ketika ditanya mengenai agama yang ia anut, Nana menjawab dengan malu-malu bahwa ia adalah seorang muslim. Kemudian peneliti menanyakan perihal ritual atau ibadah keagamaan yang ia anut, bagaimana cara Nana menjalankan ibadah tersebut setiap harinya.

Kemudian ia menjawab bahwa ia hanya menjalankan ibadah keagamaannya, yaitu sholat dan puasa pada kondisi dan waktu tertentu saja. Misalkan pada saat bulan Ramadhan, Nana hanya menjalankan puasa beberapa hari karena jika berpuasa sambil mengamen menurutnya sangat berat dilakukan.

Begitu juga dengan ibadah sholat, Nana mengatakan ia cukup kesulitan untuk menyisihkan waktunya setiap hari untuk melakukan ibadah tersebut di sela-sela waktunya mengamen. Ia mengatakan kalau ia harus berkeliling terus untuk mengamen sehingga cukup sulit untuk menemukan masjid atau menyisihkan waktunya.

BAB IV

Kesimpulan

Tidak hanya Nana yang menjadi pengamen di Alun-alun Kabupaten Karawang, tapi puluhan anak-anak lainnya juga menjalani profesi yang sama. Mereka mengaku tidak ada pilihan lain untuk mencari nafkah selain mengamen, karena tidak membutuhkan latar belakang pendidikan apapun.

Jika mereka tetap bersekolah, maka kedua orang tuanya harus mencari uang lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan sekolah mereka, seperti seragam, buku dan lain-lain. Sehingga mereka lebih memilih untuk mengamen dan menghasilkan uang. Ketika sudah bisa menghasilkan uang, mereka tidak ingin kembali bersekolah dan ingin tetap mengamen saja.

Mereka belum menyadari pentingnya pendidikan dan bersekolah karena mereka tidak merasakan langsung manfaatnya. Sedangkan jika mengamen mereka merasakan manfaatnya langsung, yaitu mendapatkan uang. Itu sebabnya yang membuat para pengamen anak-anak ini tidak ingin kembali bersekolah dan memilih untuk mengamen.

Laporan Hasil Observasi Psikologi

contoh laporan hasil observasi

Laporan observasi yang selanjutnya adalah laporan observasi psikologi. Subjek pada penelitian ini adalah seorang pegawai minimarket X yang terletak tepat di depan Universitas Gunadarma. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kinerja dari pegawai tersebut.

1. Observer

Nama                ; Shanti
Jenis Kelamin    : Perempuan
Alamat              : Jl. Bakti Mulya, Bekasi

2. Observee

Nama                : Kurniasih
Jenis Kelamin    : Perempuan
Alamat              : Jatiasih, Bekasi

BAB I

Pendahuluan

 

1. Latar Belakang Observasi

Melihat tingginya minat mahasiswa atau mahasiswi Universitas Gunadarma untuk berbelanja di minimarket X membuat peneliti tertarik untuk mengetahui pelayanan dan barang-barang apa saja yang tersedia pada minimarket X tersebut.

Menurut mahasiswa dan mahasiswi yang pernah berbelanja berbagai kebutuhan disana mengatakan bahwa pelayanan dari toko tersebut kurang memuaskan karena terkesan acuh dan tidak cekatan saat melayani pembeli.

Tsetimoni ini yang kemudian membuat peneliti ingin untuk melihat langsung bagaimana cara kerja pelayan toko tersebut, apakah sesuai dengan testimoni para mahasiswa dan mahasiswi yang pernah belanja disana atau tidak.

2. Tujuan Observasi

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pelayanan pada minimarket X sesuai dengan apa yang dikatakan oleh mahasiswa dan mahasiswi Universitas Gunadarma bahwa pelayannya terkesan acuh dan tidak cekatan.

  • Manfaat Observasi

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan atau saran kepada toko tersebut jika memang benar pelayanan pada minimarket X sesuai dengan testimoni dari mahasiswa dan mahasiswi Universitas Gunadarma.

BAB II

Landasan Teori

1. Pedoman Observasi

Menurut CEO Lentera Consulting, bisnis apapun memiliki esensi untuk menciptakan konsumen, menjaga konsumen dan membuka pasar lebih luas lagi. Untuk menciptakan ketiga esensi tersebut, maka bisnis itu harus melakukan 8 ‘values’ yang harus dimiliki oleh pegawai dari bisnis tersebut, yaitu:

  • Akses

Akses yang dimaksud adalah kemudahan pelanggan dalam melakukan transaksi, mendapatkan barang-barang yang dibutuhkan dan tempat yang strategis.

  • Skill

Skill atau kemampuan pegawai dari sebuah bisnis memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kepuasan pelanggan. Jika pegawai tidak mampu untuk menjawab pertanyaan atau memberikan informasi yang cukup bagi pembeli, maka pelanggan tersebut akan berpikir bahwa bisnis itu tidak cukup profesional, begitu juga dengan pegawainya.

  • Pelayanan

Tidak jauh berbeda dengan point sebelumnya, pelayanan seorang pegawai dari bisnis apapun dituntut untuk memiliki kemampuan untuk beramah-tamah dan juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik (antar karyawan maupun kepada pelanggan).

Dengan adanya pelayanan yang ramah dan juga komunikasi yang baik, pelanggan akan merasa puas dan tidak kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya.

2. Konsisten Menjaga Kepercayaan Pelanggan

Dalam hal ini, bisnis apapun harus melakukan hal yang sama, yaitu menjaga kepercayaan pelanggan dengan cara tidak memalsukan kualitas produk maupun harga dari produk itu sendiri.

Selain itu, pegawai juga harus mengikuti prinsip bisnis tersebut. Pegawai tidak boleh sembarangan menaikkan harga dari produk yang sudah ditentukan dan juga tidak boleh memberikan informasi palsu mengenai produk-produk yang ditawarkan.

  • Respon

Respon yang dimaksud adalah pemilih maupun pegawai bisnis tersebut harus siap untuk menerima keluhan dari para pelanggan, termasuk dengan pengembalian produk jika terjadi kerusakan.

Produk yang dikembalikan dengan alasan rusak oleh kesalahan toko atau perusahaan harus diganti dengan produk yang baru atau diberikan garansi pada setiap produk yang akan dijual atau ditawarkan.

  • Kecepatan

Kecepatan dalam pelayanan sangat dibutuhkan bagi para pelanggan. Kecepatan yang dimaksud adalah kecepatan pengantaran produk, kecepatan mendapatkan informasi, kecepatan pembayaran, kecepatan penanganan masalah pelanggan dan lain sebagainya.

  • Keamanan

Jika pada toko atau restaurant, pelayanan keamanan yang dimaksud umumnya adalah jasa security. Namun jika pada bidang bisnis lainnya, keamanan yang dimaksud seperti menjaga identitas dan kepentingan dari setiap pelanggan.

Pada dasarnya, dalam bidang bisnis apapun sangat dibutuhkan adanya jaminan keamanan bagi para pegawai maupun pelanggan.

  • Menjaga Penampilan

Penampilan yang dimaksud adalah menjaga produk-produk yang ditawarkan tetap dalam keadaan bersih dan rapi, termasuk juga dengan penampilan kantor atau toko. Kantor atau toko yang bersih akan menarik minat pelanggan dan meningkatkan kepercayaan maupun kepuasan pelanggan.

BAB III

Metode Observasi

1. Metode Pencatatan

Metode yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode Anecdotal Record, yaitu metode penelitian

  • Tanggal dan Waktu Observasi

Penelitian ini dilakukan pada hari selasa, 3 Oktober 2003. Alasan dilakukannya penelitian pada hari tersebut karena sesuai dengan jadwal perkuliahan peneliti dan juga pada hari tersebut kondisi Universitas Gunadarma dinilai cenderung lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Kegiatan observasi dilakukan pada pukul 12:00 WIB sampai dengan pukul 15:00 WIB karena jam tersebut adalah waktu istirahat bagi para mahasiswa dan juga staff kampus sehingga diperkirakan minimarket X akan padat di jam tersebut.

  • Tempat Observasi

Sebagaimana sudah disebutkan sebelumnya, tempat dilakukan kegiatan observasi adalah minimarket X.

Setting Observasi

Terdapat dua setting pada saat dilakukannya observasi, yaitu setting fisik dan setting psikis.

  1. Setting fisik : Observasi dilakukan di ruangan seluas 4×6 meter persegi. Ruangan ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu toilet umum, gudang dan ruang toko (produk-produk yang dijual). Pada ruangan ini juga terdapat enam buah rak yang berisikan berbagai produk yang dijual, satu meja kasir beserta mesin kasir dan beberapa produk pada meja tersebut.

Selain itu juga terdapat satu mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri), dua meja dan 4 kursi bagi pelanggan yang sedang menunggu antrian ATM maupun duduk bersantai.

  1. Setting psikis : Pada waktu pelaksanaan observasi, cuaca di luar ruangan sangat cerah dengan matahari yang bersinar terang namun tidak cukup berangin. Sedangkan di dalam ruangan sangat sejuk dengan adanya AC (Air Conditioner).

BAB IV

Hasil Observasi

Hasil Observasi

Minimarket X berada tepat di seberang gerbang kampus Gunadarma. Minimarket X mulai beroperasi pukul 7:00 WIB hingga pukul 22:00 WIB. Namun observasi hanya dilakukan pada pukul 12:00 WIB hingga pukul 15:00 WIB.

Saat observasi dimulai, terdapat 8 orang pelanggan yang sedang memilih produk yang akan dibeli dan mengantri di kasir. Observee, yaitu pegawai minimarket X sedang melayani pelanggan yang mengantri di kasir.

Observee mengenakan seragam kerjanya, yaitu kemeja berwarna putih dengan bagian pundak yang berwarna biru. Observee tidak mengenakan celana khusus, hanya celana jeans berwarna hitam.

Pada saat melayani pelanggan di kasir, observee membutuhkan waktu rata-rata 3 sampai 5 menit untuk satu pelanggan dengan jumlah produk yang dibeli tidak lebih dari 10 buah.

Pada saat melayani salah satu pengunjung wanita yang membeli minuman ice cappucino. Observee menyiapkan minuman tersebut menggunakan mesin yang sudah tersedia. Untuk membuat satu minuman, observee membutuhkan waktu sekitar 8 menit.

Dalam waktu 3 jam observasi, terdapat 27 pelanggan yang berbelanja disana. Beberapa pelanggan menunjukkan gesture yang kurang nyaman, seperti menggoyang-goyangkan kaki dan bermain ponsel.

BAB V

Kesimpulan

Berdasarkan observasi yang sudah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa observee setidaknya membutuhkan waktu selama 5 menit untuk melayani satu pelanggan dengan produk kurang dari 6 buah.

Sedangkan untuk pelanggan dengan produk lebih dari 6 buah dan juga dengan pesanan khusus seperti minuman tertentu, observee membutuhkan waktu setidaknya 8 hingga 10 menit.

Jika dibandingkan dengan minimarket lainnya, observee membutuhkan waktu rata-rata 2 menit lebih lama dari pegawai minimarket lainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa testimoni pelanggan, yaitu mahasiswa dan mahasiswi Universitas Gunadarma yang mengatakan bahwa pelayanan dari minimarket X dinilai kurang cepat.

Laporan Hasil Observasi Sosiologi

contoh laporan hasil observasi

Yang terakhir adalah laporan observasi sosiologi. Pada penelitian ini akan menganalisa sistem organisasi Paskibra SMAN 60 Jakarta. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui manfaat dan tujuan dari organisasi tersebut.

BAB I

Pendahuluan

1. Latar Belakang

Organisasi paskibra SMAN 60 Jakarta adalah sebuah organisasi yang langsung diawasi oleh pembina organisasi dan wakil kepala sekolah. Organisasi paskibra ini sendiri menjalani berbagai kegiatan, seperti latihan rutin, rapat anggota dan ikut serta dalam berbagai lomba.

Untuk mengetahui alasan kegiatan tersebut berjalan adalah dengan mengetahui latar belakang organisasi paskibra, visi misi dan tujuan dari kegiatan itu sendiri.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa tujuan dari dibentuknya organisasi Paskibra SMAN 60 Jakarta?
  3. Bagaimana sejarah terbentuknya organisasi Paskibra SMAN 60 Jakarta?
  • Tujuan

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah terbentuknya organisasi Paskibra SMAN 60 Jakarta dan apa tujuan pembentukannya.

BAB II

Pembahasan

I. Sejarah Terbentuknya Paskibra SMAN 60 Jakarta

Kegiatan baris berbaris sudah ada sejak dahulu kala. Kegiatan ini digunakan pada saat pengibaran bendera pusaka oleh angkatan bersenjata, sehingga sudah tidak asing lagi bagi bangsa Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya dibentuk pasukan pengibar bendera pusaka khusus yang dinamakan dengan Paskibraka Nasional RI. Kemudian mulai diperluas pembentukan tersebut menjadi unit-unit yang lebih kecil, seperti di sekolah-sekolah yang ada.

II. Visi dan Misi

Visi

Menjadikan setiap anggota dari Paskibra SMAN 60 Jakarta menjadi siswa dan siswi yang disiplin, patuh pada aturan yang berlaku dimanapun, mandiri dan menjadi siswa dan siswi yang memiliki mental kuat.

Misi

  1. Menciptakan generasi muda yang memiliki nilai nasionalisme tinggi, mencintai tanah air dan bisa ikut berpartisipasi dalam peningkatan kualitas bangsa maupun negara.
  2. Meningkatkan spiritualisme, mentalitas dan berbagai kemampuan yang anggota miliki.
  3. Menciptakan ikatan persaudaraan yang erat antar individu maupun lembaga dan menjaga komunikasi yang baik.
  4. Membekali dan membimbing setiap anggota dalam memahami pengetahuan-pengetahuan terkait PBB, agar para anggota bisa memahami tidak hanya gerakan baris-berbaris saja.
  5. Memberikan pengetahuan berupa teori-teori mengenai sejarah Paskibra, tujuan adanya Paskibra dan manfaat dari kegiatan tersebut.

III. Kegiatan Nyata Paskibra SMAN 60 Jakarta

Selama berdirinya organisasi Paskibra di SMAN 60 Jakarta, para anggotanya telah melakukan berbagai kegiatan berupa kegiatan sosial maupun kegiatan internal seperti rapat rutin, regenerasi dan lain-lain.

Setiap tahunnya, organisasi ini melakukan regenerasi anggota dengan cara melakukan pendidikan dasar yang dilaksanakan selama 3 hari. Kegiatan ini terkadang dilakukan di luar sekolah, namun tidak jarang juga dilakukan di sekolah. Pendidikan dasar dilakukan untuk memberi bekal akan pengetahuan mengenai Paskibra dan PBB kepada para calon anggota.

Para anggotanya juga wajib mengikuti rapat rutin yang dijadwalkan setidaknya satu kali dalam seminggu. Jika akan melakukan program kerja atau kegiatan khusus, frekuensi dari rapat rutin ini akan ditingkatkan.

Anggota Paskibra SMAN 60 Jakarta juga beberapa kali melakukan kegiatan baksos untuk mengumpulkan sumbangan bagi para korban bencana. Setelah banjir selesai, para anggota juga bergotong royong membantu masyarakat korban banjir untuk kembali membersihkan lingkungan rumahnya.

BAB III

Metode dan Pelaksanaan Observasi

I. Metode

Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian observasi, yaitu mencatat dan menganalisa pergerakan dari subjek dalam waktu tertentu.

II. Pelaksanaan

Hari                 : Rabu, 10 November 2001
Pukul              : 10:00 WIB sampai dengan 16:00 WIB
Tempat            : SMAN 60 Jakarta dan Sekretariat Paskibra

BAB IV

Penutup

I. Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan berorganisasi memiliki manfaat yang sangat besar terhadap para anggotanya. Tidak terkecuali dengan organisasi Paskibra SMAN 60 Jakarta ini.

Calon anggota akan diberikan pembekalan berupa pengetahuan dasar mengenai organisasi Paskibra sekolah maupun nasional. Anggota tetap juga akan memberikan pengetahuan mendasar mengenai baris-berbaris, dengan harapan calon anggota tidak hanya melakukan gerakan saja namun juga mengerti maknanya.

Setelah calon anggota selesai diberikan pembekalan berupa materi, mereka akan melalui tahap selanjutnya, yaitu pendidikan dasar beserta pelantikan. Kegiatan ini memakan waktu sekitar 2 hingga 3 hari.

Selama pendidikan dasar, calon anggota akan diuji mengenai pengetahuan dan kemampuan yang telah diberikan sebelumnya dan mengaplikasikannya dalam kegiatan sehari-hari selama masa pendidikan berlangsung.

Tidak hanya kemampuan wawasan saja yang diuji, pada pendidikan dasar ini juga calon anggota akan dilatih agar memiliki keberanian dan mental yang kuat untuk menghadapi segala permasalahan yang muncul.

Pengujian ini dilakukan secara berkelompok maupun individu. Kompetensi yang diuji juga disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan serta bidang dari organisasi itu sendiri sehingga kelak para calon anggota ini mampu menjadi anggota yang bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun organisasinya.

Setelah melewati masa pendidikan dasar, calon anggota akan dilantik untuk menjadi anggota penuh. Simbolisasi dari anggota penuh beraneka ragam, namun pada Paskibra SMAN 60 Jakarta simbol anggota berupa syal berwarna merah dengan corak putih pada tepiannya.

Bekal-bekal pengetahuan yang diberikan tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi para anggotanya dalam berperilaku sehari-hari dan menerapkan ilmu-ilmu yang sudah mereka miliki.

Para anggota yang telah dididik untuk memiliki nilai nasionalisme tinggi juga secara otomatis akan bertanggung jawab dengan setiap perilaku maupun keputusan yang mereka ambil. Mereka juga akan memiliki rasa gotong royong terhadap sesama bangsa Indonesia.

Sebagai contoh, kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh Paskibra SMAN 60 Jakarta saat terjadi bencana banjir di Jakarta. Kegiatan tersebut didasari dari rasa nasionalisme dalam berbangsa dan bernegara, sehingga mereka harus membantu sesamanya.

Beberapa contoh laporan hasil observasi diatas dapat dijadikan acuan dalam membuat laporan observasi Anda sendiri.

Observasi tidak hanya dapat dilakukan pada bidang-bidang yang disebutkan diatas, bidang lain pun bisa menggunakan metode penelitian ini. Semoga artikel ini dapat membantu, ya!

Jangan lupa cari pembahasan lain di organicvolunteers.com

Leave a Comment